Jumat, Januari 23, 2009





Puncak Penanggungan

17 Agustus 2008 saya melakukan pendakian bersama beberapa teman ke gunung Penanggungan, ini adalah pengalaman pertama saya untuk mendaki gunung. Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 9 malam dan nyampek di lokasi pendakian sekitar pukul 11 malam. Perjalanan ke lokasi pendakian kami tempuh dengan naik motor, setelah kami tiba di lokasi pendakian kami langsung bersiap – siap untuk mendaki, setelah kami selesai menyiapkan semua peralatan perang, kami menitipikan motor pada tukang parkir yang sepertinya memang di persiapkan untuk menjaga kendaraan para pendaki yang malam itu adalah malam tanggal tujuh belas Agustus di mana orang – orang Indonesia kebanyakan ikut merayakan hari kemerdekaan Indonesia padahal menurut saya pribadi kita belum merdeka kita masih terjajah. Sebenarnya kami mendaki pada hari itu bukan ikut merayakan hari kemerdekaan, tapi kebetulan jadwal kami tepat pada hari yang sama.
Malam sangat cerah bintang bertaburan di angkasa sana, saya mulai melangkahkan kakiku setapak demi setapak mengikuti teman – teman untuk menuju puncak penanggungan, perjalanan awal saya lihat dikiri kanan jalan berupa kebun – kebun penduduk yang banyak di tanami cabe ataupun pisang, jalan yang kami susuri masih berupa jalan batu ( makadam ) yang kendaraan masih bisa melewatinya. Akhirya saya rasakan jalan mulai menanjak dan terus menanjak tapi kulihat masih banyak kebun disana – sini, sekarang jalannya Cuma setapak dan terkesan bekas jalan air di waktu musim hujan, ternyata penanggungan mempunyai track yang sangat menanjak karena penaggungan adalah gunung yang tidak aktif dan berbentuk Strato ( kerucut ).
Gunung Penanggungan mempunyai ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut ( DPL ) atau 5.423 kaki terletak di pulau Jawa bagian timur tepatnya di daerah pandaan
Track penanggungan termasuk pendek tapi terhitung sulit dan melelahkan karena sejak kita memasuki track pertama kita di suguhi track yang terjal dan menanjak, dan sangat di butuhkan fisik ekstra. Malam itu yang mendaki penaggungan sangat banyak, rupanya banyak anak – anak muda yang memanfaatkan moment yang mereka anggap penting itu yaiu hari kemerdekaan negara yang banyak menghasilkan koruptor ini. Termasuk para cewek – cewek yang berjiwa petualang juga banyak yang mendaki, tapi saya sempat melihat seorang cewek yang menangis tersedu – sedu sendirian, saya cuma berpikir mungkin ketinggalan temannya atau dia merasakan kecapekan yang luar biasa, biarkan saja malam yang dingin mengusap air matanya, dia mendaki kan sudah tahu konsekwensinya.
Sekitar pukul tiga pagi kami sudah nyampe di puncak Bayangan dimana daerah ini berupa daerah terbuka dan berupa rerumputan yang lebat dan tinggi, disini terlihat banyak orang sedang istirahat dan banyak yang mendirikan tenda untuk melanjutkan perjalan pada pagi harinya, dari tempat ini puncak Penaggungan terlihat remang – remang seperti bayangan, mungkin ini maksud para pendaki menamainya dengan puncak bayangan, suasana begitu indah jauh di bawah sana jutaan lampu terlihat berkelap – kelip terbias oleh angin, kami terus melanjutkan perjalanan tanpa berhenti udara berhembus sangat kencang dan dingin.
Track setelah pencak bayangan terkesan cukup berat dan ekstrem karena selain jalan yang menanjak dengan sudut kemiringan kurang lebih 800 medan berupa batu – batu yang terjal dan banyak posisi batu yang tidak stabil yang sewaktu – waktu terrgoyang sedikit akan meluncur kebawah, di lokasi ini terdapat goa yang ukuranya tidak terlalu besar, nampaknya goa ini biasa di gunakan para pendaki untuk sekedar melepas lelah sejenak sebelum sampai puncak.
Udara semakin kencang dan dingin menampar wajahku, dan Alhamdulillah menjelang subuh kami sudah berada di puncak. Setelah mencari tempat untuk menaruh barang – barang bawaan kami, kami sholat subuh berjama’ah tepat di puncak penanggungan. Suasana masih terlihat gelap, gunung penanggungan seperti berdiri tegak di tengah lautan lampu yang tampak berkedip – kedip.
Perlahan kegelapan mulai tersingkap oleh menyingsingnya sang fajar, pemandangan dari puncak sangatah indah, di seberang sana terlihat gugusan gunung Welirang dan Arjuno yang tampak kebiru – biruan di selimuti udara pagi. Perlahan dari arah timur munculah sang bagaskara yang hendak menyinari bumi, sinarnya tampak semburat merah kekuning – kuningan, sunrise. Terlihat semua para pendaki berjajar membentuk seperti pagar pada sebuah labirin menyaksikan munculnya sang mentari pagi yang akan menunaikan tugasnya. Setelah sarapan dengan berbagai perbekalan makanan yang kami bawa, akhirnya kami turun.
Diiringi dengan buaian hangat sinar matahari saya bersama teman – teman mulai menapaki jalan terjal yang menurun, dan perjalanan turun lumayan cukup cepat kira – kira tiga jam kami sudah nyapek pos pertama.
…hari ini aku telah menjejakkan kakiku di atas Penanggungan…


puncak-arjuno





5 komentar:

Anonim mengatakan...

Ass Wr.Wb
Ana mau tanya situ kata2nya terlalu nduwur dewek, g tau maksud lo?

Anonim mengatakan...

wa'alaikum salam wak..kak...kak...gak kukuk sum

green mengatakan...

bahasa adalah cerminan hati, maka katakanlah apa yang ada di hatimu dengan menerjemahkan apa yang engkau lihat

Anonim mengatakan...

Assalam,bro gue kangen qt daki gunung lagi?

Anonim mengatakan...

wa'alikum salam..ndaki kemana enaknya ya...?ini siapa