Jumat, Januari 23, 2009





Puncak Arjuno

Desauan angin menyapu ranting – ranting cemara merajut symponi kebasaran_Nya, … dan kabut pun turun ……

Malam itu hujan turun dengan lebatnya, petir menyambar – nyambar diiringi gelak halilintar yang gahar, saya merasa cemas dan ragu, maklum malam itu saya bersama teman – teman mau mendaki gunung Arjuno yang terletak di daerah Pasuruan.
Semua berbaris rapi untuk menerima instruksi dari komandan perjalanan kami, mengecek segala peralatan yang mesti kami bawa supaya jangan sampai ada yang tertinggal, komandan begitu tegas memberi intruksi supaya kita benar – benar menjadi pendaki yang profesional yang bisa memahami segala permasalahan di atas makhluk ciptaan Allah yang sangat menjulang tersebut, setelah berdo’a kami berangkat beriringan menurut shof yang diatur oleh komandan, kurang lebih jam dua belas malam.
Malam terus berjalan menelan apa saja yang ada dengan kegelapannya kami berjalan beriringan menyusuri jalanan yang terus menanjak, bau rerumputan dan bau tanah basah merasuk kedalam paru – paruku dan menyegarkan jiwaku, Subhanallah Engkau Maha Sempurna dengan segala apa yang Engkau Ciptakan. Malam terus beranjak guna menyongsong sang pagi yang terus merayu, suara binatang – binatang malam bernasyid ria seolah berdzikir memuji kebesaran_Nya dengan menganugerahkan alam yang begitu elok yang jauh dari polusi akibat tangan – tangan manusia.
Perlahan terdengar sayup – sayup suara adzan berkumandang jauh di bawah sana pertanda fajar telah tiba dan karena itu Engkau menyeru kepada setiap insan untuk segera bersujud di hadapan_Mu, tak lama kami memasuki pos kedua yang biasa di sebut dengan nama Kop – kopan.
Udara begitu dingin, kami beristirahat sebentar sambil memasak nasi dan membuat minuman penghangat seperti kopi dan jahe, selanjutnya kami berkumpul mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, kurang lebih pukul enam pagi kami berangkat melanjutkan pendakian ke pos tiga, rute yang kami tempuh lumayan tidak sulit seperti jalan yang belum di aspal pada umumnya tapi sangat jauh dan menanjak,sehingga membuat saya sering taking arest for a moment, tapi perjalanan yang jauh dan melelahkan ini seimbang dengan pemandangan yang begitu indah, pohon – pohon cemara tegak menjulang tampak saling bercengkerama, dan lembah – lembah tampak menghijau dengan lebatnya pepohonan yang mayoritas pohon cemara, suara kicauan burung bersahut – sahutan berdendang ria bersyukur, terlihat pula bebarapa monyet hitam berlompatan dari dahan ke dahan, dan nun jauh di sana terlihat Gunung Penanggungan yang tampak berselimut kabut tanda udara dingin menyelimutinya, terlihat pula puncak Welirang yang telanjang dan selalu mengepulkan asap seolah seseorang pecandu rokok yang enggan meninggalkan rokoknya. Kurang lebih empat jam, kami akhirnya tiba di pos tiga yang biasa di sebut dengan Pondok, pondok ini adalah lokasi dimana kita bisa menentukan pilihan karena ada dua pilihan jalur menuju ke puncak gunung yang berbeda yaitu puncak Welirang dan Puncak Arjuno itu sendiri dimana memang jalur ke Arjuno dan Welirang memang sama dan berkhir disini. Pos tiga ini adalah daerah terbuka yang tidak terlalu luas dan berbatu, dimana lokasi ini banyak pondok – pondok sederhana yang dibikin para tukang pencari belerang untuk beristirahat atau untuk menampung belerang hasil pengambilannya di puncak gunung Welirang tersebut.
Kami beristirahat meluruhkan penat dan mengisi energi tubuh dengan memasak nasi dan membuat minuman penghangat , setelah selesai semuanya kami berangkat lagi kali ini kami akan menuju ke tempat camping yang biasa di sebut oleh para pendaki sebagai Lembah Kijang dimana kami akan beristirahat dan menyiapkan diri untuk melanjutkan pendakian utama yaitu menuju puncak Arjuno, perjalanan dari pos tiga menuju lembah kijang tidak jauh sekitar tiga kilo meter dengan track yang tidak mendaki cuma melewati hutan cemara yang lumayan lebat. Perjalanan ke Lembah Kijang memakan waktu kurang lebih satu jam. Setelah menembus hutan cemara dan semak – semak hutan yang sangat lebat akhirnya kami nyampe di Lembah Kijang, savana yang tidak begitu luas, hamparan rumput tebal menghampar bak permadani alam di pagari dengan keperkasaan cemara yang berjajar, dan kami pun mendirikan tenda, tepat di bawah naungan puncak Arjuno yang tinggi menjulang. Sesekali kabut tipis datang menyapa kami dengan mengusapkan udara basahnya. Kamipun bergegas mendirikan tenda – tenda yang telah kami bawa, dan mencari potongan – potongan kayu guna membuat perapian sebagai penghangat tubuh yang serasa beku.
Dan senjapun turun setelah mengantarkan matahari pulang ke peraduannya, suasana begitu indahnya, saya merasa begitu kecil tatkala kupandang ke atas sana, sebuah gugusan tanah mengerucut tinggi, Allahuakbar..sungguh Maha Besar Engkau…You are the supreme being..n’ I’m a weak creature, then…namida wa futte ita……
Malam yang pekat membalut kami menyembunyikan apa yang ada di dalamnya menyimpan bisu tentang sebuah rahasia, rahasia yang hanya bisa di kuak dengan sebuah cahaya keimanan.
Binatang malam tampak asyik terdengar lagi, menikmati malam yang tanpa awan. Yah… malam ini langit tanpa sehelai awan tapi bulan belum bertugas jaga menerangi bumi malam itu, hanya beberapa bintang yang berkedip – kedip jauh di sana. Kami pun berjajar mengelilingi api unggun kecil yang kami buat untuk sekedar sedikit menghilangkan dinginnya udara di lembah tersebut, sambil sesekali membasahi perut yang terasa beku dengan meminum hot ginger, seandainya Allah tidak menunjukkan jalan kepada hamba_Nya yang faqir ini mungkin bukan segelas hot ginger yang saya tenggak tapi a bottle JeamBeam atau saudaranya, itu adalah barang terlaknat dan Alhamdulillah saya sudah tidak membutuhkan lagi keberadaannya, ..and keep all alcohol and addictive away! Perform this bow to Allah only. Malam semakin larut hingga mata ini membutuhkan untuk di pejamkan karena setelah berjalan yang cukup panjang dan malam itu pula kami dajadwalkan untuk mendaki ke pun ak pukul dua belas malam, sayapun merebahkan badan tapi hanya sebentar karena udara yang sangat – sangat dingin membuat saya kembali ke perapian untuk menghangatkan tubuh.
Akhirnya waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam kamipun bersiap – siap dengan perbekalan kami seperti air, jas hujan karena bisa saja hujan turun sewaktu – waktu mengingat bulan itu hujan biasa turun, senter karena medan sangat curam dan menanjak maka setiap orang harus membawa senter sendiri – sendiri, tapi ternyata ada juga yang tidak membawa senter karena suatu sebab bateray habis, atau dopnya putus termasuk punya saya sendiri, tapi alhamdulillah ada rombongan yang menggunakan lampu neon portable  sehingga yang tidak punya penerangan pribadi bisa mengikuti yang membawa lampu tersebut.
Kamipun akhirnya berangkat menyusuri jalan setapak yang terus mendaki, sesekali kami diterangi oleh kilatan cahaya dari langit, malam semakin pekat dan dingin semakin membalut perjalanan kami, hembusan angin merdu menggesek dedaunan.
Pohon – pohon cemara tampak gahar berdiri tegak di bibir – bibir jurang. Puncak semakin dekat dan deruan angin semakin keras menderu menampar kesunyian, sesekali kabut basah menerpa kami menambah kedinginan malam itu. Subhanallah subuhpun tiba dan kami sudah berada pada dataran puncak pertama, kami sholat berjamaah diantara bebatuan yang berserakan di sana-sini.

…Pagi ini saya berdiri tegak diatas puncak makhlukMu
mereguk semua yang ada di atas kebesaranMu……
…hamparan awan damai membentang, seperti padang terhampar jauh memandang…
……Dan kabutpun turun…

Bagaikan berdiri di atas awan pada puncak ketinggian 3.339 meter diatas permukaan laut, tampak gugusan pegunungan lain, puncak welirang tampak di seberang sana seakan – akan hanya beberapa lompatan dari puncak Arjuno, begitu pula dengan Gunung Ringgit, dan jauh kebawah sana rumah tampak seperti titik – titik tak beraturan, dan tampak pula camp kami di sebuah lembah yang sangat hijau, lembah Kijang. Kami terus menikmati kebesaran ciptaan Allah dari puncak satu ke puncak lainnya, di puncak kedua saya sempat tertegun ketika menyaksikan sebuah symbolic berupa makam, rupanya ada empat orang yang telah meninggal dan konon mayat – mayat mereka tidak di temukan lagi maka dibuatkan simbol berupa pemakaman guna mengenang mereka. Dan hal ini bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi karena kematian bisa menjemput di mana saja kita berada di puncak gunung, dilembah atau dilautan yang dalam dan dengan cara apapun sesuai apa yang di kehendakiNya. Oleh sebab itu kita selalu berdo’a semoga Allah menjeput nyawa kita saat diatas kebenaranNya, disaat kita berjuang menegakkan kalimatNya. Wallahu’alam bishowab.

Akhirnya tibalah kami di puncak yang terakhir, puncak ini berupa batu – batuan keras yang lumayan besar – besar, dari sini kita bisa melihat puncak semeru di kejauhan sana, di sisinya sebuah jurang yang sangat curam dan sangat dalam, kami banyak berfoto – foto disini, tapi sayangnya hari itu cuaca berawan sehingga menghalangi sunrise yang biasanya nongol dipagi hari. Dan akhirnya kabutpun turun dan kami bergegas untuk segera meninggalkan puncak karena di khawatirkan kabut bisa menutupi pandangan kami, sehingga akan memnyulitkan perjalanan .

Sinar mentari pagi yang kami tunggu untuk menurunkan suhu dingin puncak Arjuno enggan menyapa kita, karena hamparan awan berkesan menyelimuti kedatangannya, maka dengan kulit yang terasa beku dan mulut yang berasap kami mulai turun menyusri lereng – lereng yang curam. Dalam perjalanan turun ini tidak seberat waktu perjalanan naik, tapi kita harus ekstra hati – hati karena sekali kita tergelincir maka mulut jurang siap menelan kita. Kami sempat tersesat karena begitu banyak jalan setapak yang menyesatkan hingga akhirnya kita masuk ke jalur welirang, tapi akhirnya kita cepat menyadari ketersesatan kita dean kembali menemukan jalur ke camp.
Perjalanan ke kamp sudah dekat ketika matahari datang dengan riangnya menyinari kami yang terus berebut nyari strawbery hutan, banyak dan semakin banyak strawbery itu memenuhi perut saya sampai – sampai saya malu jikalau ada kera yang datang, karena konon itu makanan kera atau burung. Akhirnya nyampe juga dikamp tampaknya tenda – tenda sudah di lipat oleh teman – teman yang tidak ikut naik ke puncak.
Setelah selesai makan, kami mulai turun bersama semua rombongan lengkap yang tadinya tidak ikut naik kepuncak. Perjalanan sangat panjang dan jauh menanti di depan tapi inilah tantangan bagi sang pendaki.
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya kami tiba di pos pertama kami mendaki, luar biasa penat dan rasa capek, dan saya termasuk kloter yang paling akhir datang dalam rombongan. Akhirnya setelah sejenak beristirahat dan mengatur rombongan, perlahan mobil mengantar kami ketempat masing – masing. Alhamdulillah perjalanan yang menantang dan mengesankan, tapi ada makna yang lebih besar dari semua itu yang kami rasakan, just God knows it…

foto - foto di Arjuno

puncak penanggungan






0 komentar: