Rabu, Februari 04, 2009






Berdua di puncak Welirang



Hujan lebat menyambutku ketika kami baru menjejakkan kaki di puncak Welirang. Suasana gelap tertutup kabut, hanya angin yang menderu – deru.

Perjalanan ke gunung kali ini terhitung sangat ekstrim karena saya tidak pernah menyiapkan rencana sebelumnya.

Sore itu sepulang dari kerja seharian saya langsung menunaikan sholat Maghrib, belum sempat mandi karena sholat jamaah di sebuah masjid telah di mulai, selesai sholat ada teman yang datang dan mengajak untuk mendaki gunung saya langsung menyetujuinya karena kegiatan ini selain melatih fisik dan juga melatih mental kita dengan berbagai kesulitan yang biasa terjadi di sebuah gunung, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Gunung Welirang padahal sebelumnya teman ini juga gak ada niat untuk mendaki gunung. Akhirnya dengan berbagai perbekalan saya siapkan, sementara teman yang lain pulang untuk mempersiapkan perbekalan mereka juga, karena bulan ini ( Januari / Februari ) termasuk bulan di mana curah hujan sangat banyak turun di daerah yang berbasic iklim tropis maka saya harus membawa jas hujan juga, dan karena mendadaknya rencana maka terpaksa harus membeli dulu jas hujan ketika dalam perjalanan.

Sekitar jam setengah dua belas malam kita sampai di pos pertama di mana kita akan mendapatkan ijin dari petugas sekaligus menitipkan kendaraan kita.

Lagi – lagi petugas dan kantornya tutup sehingga kami bingung di mana harus nyari tempat penitipan motor kami kesana kemari untuk sekedar nyari tempat parkir tapi enggak ada yang mau karena maklum di tempat itu adalah daerah wisata yang mayoritas bangunannya adalah berupa hotel, vila atau penginapan. Kami sebenarnya sudah hampir putus asa dan memutuskan untuk mendaki besok paginya, tapi alhamdulillah akhirnya ada yang ngasih tahu rumah petugasnya dan akhirnya kita bangunkan dia dan kita di beri ijin untuk mendaki, tapi sayangnya petugas tersebut memberi peringatan yang membuat hatiku sedikit kecewa, dia memberitahukan bahwa cuaca buruk, hujan dan badai, dan dia menyarankan untuk tidak ke puncak supaya cuma sampai di pos tiga aja, tapi saya sudah bertekad dalam hati bahwa saya harus sampai ke puncak karena saya teringat dari kata – kata kang Imam ketika di tanyai seorang wartawan mengenai kematian dia menjawab mati tidak bisa di majukan atau di mundurkan walaupun cuma satu detik saja, dan memang benar Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 145 yang artinya Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya “.

Tengah malam, berempat kita mulai menyusuri jalan yang menanjak yang basah oleh bekas siraman hujan yang turun malam itu. Setapak demi setapak kaki mengijakkan ke dataran tinggi yang alami ini, belum sampai setengah dari perjalanan menuju pos dua mata ini terasa berat minta di pejamkan dan ternyata bukan hanya saya yang merasa ngantuk, semua teman juga mersakan hal yang sama akhirya kami beristirahat dan tertidur di tangah jalan berbatu dan gelap yang pekat.

Perlahan hawa dingin menjalar keseluruh tubuhku yang akhirnya bangunkanku dari tidur.

Saya bangunkan teman – teman yang tampaknya masih enjoy dengan ngantuknya, akhinya kita lanjutkan perjalanan hingga akhirnya subuh kita sudah sampai di pos kedua. Setelah sholat subuh kita ngisi air untuk perbekalan dan sarapan secukupnya kemudian kami berangkat lagi menuju pos ke tiga. Suasana sangat sepi dan tidak saya temui satu pendaki pun yang naik ataupun turun cuma saya lihat di pos dua ada sebuah tenda nggak tahu dia mau naik atau mau turun. Saya semakin bertanya – tanya dalam hati berarti benar yang di katakan petugas tadi kalu tidak ada yang mendaki gunung saat ini, bahkan pencari belerangpun libur, saya semakin cemas jangan – jangan memang sedang badai di atas sana. Setapak demi setapak terus kami lalui jalan yang berbatu, akhirya rombongan kami berempat terpecah menjadi dua kelompok karena ada teman yang bermasalah dengan sandalnya, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan dahulu dan kami sepakat jika mereka tidak melanjutkan perjalanan maka kami berdua akan melanjutkannya sampai puncak hanya berdua saja.

Dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan hanya berdua saja, ini merupakan sebuah tantangan baru karena di antara kami belum ada yang tahu rute ke puncak welirang, hari itu suasana di perjalanan benar – benar lumayan ekstrim, kabut terus menerus menutup pandangan kami hingga jarak pandang kami Cuma sekitar tiga meter, dan suara menderu – deru angin yang menabrak ranting – ranting cemara menambah ketegangan suasana.

Akhinya jam sepuluh pagi kami sampai di pos tiga, dan ternyata di sini sudah ada beberapa pendaki yang ngekamp di sini ternyata petugas itu bohong atau mungkin tidak tahu bahwa ada banyak pendaki di sini dan juga orang yang mengambil belerang bekerja seperti biasannya. Kami istirahat sebentar untuk mengisi perut dan mengisi air minum di sumber mata air yang ada di situ, hingga akhirnya melanjutkan perjalanan ke puncak, track inilah yang di antara kami berdua belum pernah melewatinya karena track untuk sampai ke pos tiga saya pernah melewatinya waktu naik ke gunung Arjuno, karena track ke Arjuno dan welirang melalui pintu pandaan sama sebelum akhirnya pisah di pos tiga.

Dengan hanya mengandalkan kenekatan kami terus merayap naik menyusuri jalan orang – orang yang mengambil belerang, karena asumsi saya belerang ada di puncak gunung dan dekat dengan kawah maka jalan ini pasti akan mengantarkan kita sampai ke puncak, Alhamdulillah ternyata benar.

Kami bertemu tiga orang pendaki yang turun dari puncak mereka bilang cuaca buruk kabut sangat pekat dan kecepatan angin 100 km per jam, tapi kami sudah bertekat untuk menyelesaikannya.

Hujan lebat mengguyur kami tepat saat kaki kami menjejakkan di atas welirang, padahal perjalan ke kawahnya masih jauh, angin menderu – deru kabut menyelimuti kami hingga di kanan kiri kami kedalaman jurang tidak bisa kita lihat yang ada cuma putih kabut, kami teruskan perjalanan dengan menyusuri tebing – tebing yang yang curam sungguh sangat menegangkan dan menantang tapi sangat indah dan luar biasa kebesaran Allah atas ciptaanNya. Akhirnya kita sampai di tempat di mana orang – orang mengambil belerang, bau belerang sangat menyengat dan tampak sebuah kawah belerang yang terus mengeluarkan asap yang menyegat dan mengeluarkan partikel cair yang kelak mengeras menjadi belerang, saat itu hujan turun semakin lebat dan kabut terus menerpa kami dari jurang yang sangat gelap de sebelah kiri kami, akhirnya kami memutuskan untuk turun.

Tapi sangat di sayangkan kamera yang kami bawa baterainya drop ( hp ) sehingga kami tidak bisa mengabadikan keindahan suasana yang mencekam di punggung welirang.

Dari puncak sekitar jam 2 siang sampai pos pertama jam sembilan malam, hujan terus mengguyur kami…Alhamdulillah

Gunung adalah makhluk Allah yang sungguh menjulang dan besar dan Allah menciptakannya sebagai pasak dari bumi yang kita tempati ini, dan gunung – gunung sebagai pasak “ (An Naba : 7 )

Dan kita banyak mengambil dari hikmah dari sebuah pendakian, malatih mental,fisik dan kesabaran.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” ( al Hasyr : 21 )


special thanks to Allah SWT and the prophet Muhammad Rasulullah SAW, Zainul the guy who accompanyied me to the summit, pak Eko and some one that dont want be told.
and this writing i dedicate for all my friends ( jahiliyah ) . stop guys ! dont spend your time for nothing, be good and right mosleem...!

puncak penanggungan

foto-foto di welirang

0 komentar: