Kamis, Februari 19, 2009





rute ke gunung lawu

Gunung Lawu adalah gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah tepatnya di antara kota Surakarta dan Madiun, gunung ini mempunyai ketinggian 3245 m dari permukaan laut ( DPL ). Gunung Lawu adalah gunung yang tidak aktif dan mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit (hutan yang berada pada ketinggian 300 - 750 meter dpl ), hutan Dipterokarp Atas (hutan yangberada pada ketinggian 750 - 1,200 meter dpl ), hutan Montane (hutan yang berada pada ketinggian 1,200 - 1,500 meter Dpl), dan hutan Ericaceous( Hutan Ericaceous adalah Hutan Gunung yang berada pada ketinggian di atas 1,500 meter dpl ).

Gunung Lawu terletak dekat dengan jalan raya, karenanya lebih mudah dicapai, sehingga banyak sekali pendaki yang naik ke puncak Gunung Lawu. Untuk menuju kawasan Gunung Lawu bagi yang mengambil rute dari Jawa Timur dapat dimulai dari terminal bis Surabaya ( Bungorasih ) menuju terminal Maospati dengan menggunakan bus kota, dengan ongkos Rp 24.500 (16/02/2009) dilanjutkan ke terminal Magetan dengan mobil angkutan carry dengan ongkos Rp 5000 ( ini berdasarkan pengalaman penulis yang mana baru pertama kali ke Gunung Lawu ) jika anda datang di Maospati siang atau tidak terlalu malam maka anda akan mendapti bus – bus mini yang akan menuju sarangan, setelah di Magetan anda bisa mencari mobil dengan jenis L300 untuk selanjutnya menuju ke Plaosan dengan biaya Rp 5000 juga, selanjutnya dari sini kita bisa mencari angkutan dengan jenis mobil L300 juga yang akan menuju ke Tawangmangu dan kita bisa turun di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang, dengan ongkos Rp 7500 ( bisa di tawar ). Cemorosewu adalah pintu pendakian yang terletak di distrik Jawa Timur rute ini tidak terlalu panjang seperti halnya di cemoro kandang, dengan jalan yang sudah di tata sedemikian rupa sehingga memudahkan para pendaki untuk mencapai puncak, tapi track ini lumayan menanjak.

Jika anda ingin sedikit lebih irit ongkos maka anda bisa menggunakan jasa kereta api, bisa di mulai dari stasiun Semut atau stasiun Gubeng anda bisa mengecek jadwal pemberangkatan dan tarifnya disini. Dari stasiun Semut atau Gubeng langsung menuju ke Stasiun Madiun setelah itu anda bisa mencari angkot yang lewat di depan stasiun dengan kode angkot DD ongkosny Rp 2500 maka anda akan di bawa ke terminal Bus kota Madiun, di sini anda bisa mencari bus mini silahkan tanya bus yang melewati Plaosan yang penulis ingat bus tersebut jurusan ke Sarangan, maka anda bisa turun di Plaosan dengan ongkos Rp 10.

000 selanjuynya sama seperti yang di atas.

Pendakian dari desa Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan ini melewati beberapa pos,pertama pos penjagaan, dimana pengunjung harus lapor terlebih dahulu. Dari Pos penjagaan, jalur agak landai dan batu tersusun rapi. Udara terasa dingin, sepanjang jalan tampak pemandangan hutan yang menyegarkan mata, dan kera-kera berlopatan dari ranting pohon, juga sesekali terlihat kijang yang sedang merumput. Dan sepanjang jalan ini kita akan sering menjumpai burung Jalak Batu yang bertingkah sangat lucu dan bersahabat sekali, mereka seolah berjalan menunjukan jalan kepada kita dan burung – burung ini sangat menyukai roti jika kita melemparkan roti kepada mereka, mereka langsung memakannya sambil terus melihat kearah kita, sangat lucu sekali, tapi sayangnya hal seperti ini banyak di salah artikan yang menganggap sebagai pertanda baik atau buruk, padahal itu bisa menjatuhkan diri kita kedalam kemusyrikan. Dan padahal Allah Ta’ala menciptakan makhluk ini dengan di berikan tingkah polah seperti itu, sebab saya juga menemuinya waktu saya mendaki Gunung Welirang dan tingkahnya persis seperti itu.

Puncak G. Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit, serta masih banyak dijumpai sisa-sisa kawah yang telah lama tidak aktif. Dan puncaknya kita bisa menyaksikan. panorama yang sangat menawan juga lembah Tawangmangu dan Sarangan dengan danaunya yang indah.

Di atas ketinggian 3.245 meter dari permukaan laut (dpl), puncak Gunung Lawu yang merupakan bentukkan dari sisa kawah tak aktif, menjadi daerah tujuan wisatawan menikmati lembah Tawangmangu yang menawan, Sarangan dengan danau indahnya, birunya Laut Selatan, hingga suguhan sunset dan sunrise, bahkan desa dan kota-kota di sekitarnya, termasuk Solo, menyuguhkan pesona dan keindahan luar biasa jika dinikmati dari Puncak Lawu. Akan mencekam saat awan datang menebarkan selimut mayanya. Perbukitan sontak disulap bak pulau kecil berbatas lautan awan. Tak ubahnya, pengunjung seolah berada di atas awan.

Dari Cemorosewu sampai ke puncak memakan waktu±5 jam( berdasarkan pengalaman penulis ), sedangkan turunnya membutuhkan waktu ± 4 jam ( lewat Cemoro Kandang ).

Track Cemoro kandang lumayan jauh di bandingkan dengan cemoro sewu jalannya berkelok – kelok ( zigzag ) dan licin di saat musim hujan karena strukturnya tanah tapi pemandangannya lebih bagus dari rute lewat cemoro sewu, jika anda turun melalui rute ini, anda bisa menyiasati memotong jalan yang berkelok – kelok tersebut dengan melalui jalan air hujan.

Di balik keindahan yang memukau, Puncak Lawu merupakan tempat orang banyak melakukan kemusyrikan Setidaknya ada tiga tempat yang di anggap keramat yaitu; Puncak Argo Dalem, Argo Dumilah dan Argo Dumiling. Banyak orang datang ke puncak lawu hanya untuk melakukan ritual – ritual yang tak jelas juntrungnya bahkan tidak jarang pula orang yang sudah tua renta nekat untuk naik ke puncak juga untuk sekedar melakukan ritual – ritual khusus, hal ini saya ketahui ketika saya berangkat dari Plaosan menuju Cemoro Sewu, kebetulan sebelah saya duduk di bangku depan adalah orang tua yang mau muncak sekedar ingin bertapa katanya, dan orang tua ini berlagak seolah – olah yang mempunyai Gunung Lawu dalam hati kecil saya berkata macam betul.tapi sayangnya kami berpisah di cemoro sewu karena pak tua tersebut mau mendaki dari cemorokandang yang menurut dia jalannya tidak terlalu menanjak.

Kemusyrikan Puncak Lawu tak lepas dari cerita tentang Raja Majapahit, Prabu Brawijaya. Konon, melihat salah seorang anaknya, Raden Patah, masuk Islam dan mendirikan kerajaan islam di Demak, Sang Prabu yang memeluk agama Budha merasa gelisah. Muncul kegamangan tentang kelangsungan Kerajaan Majapahit. Untuk itu, dia bermeditasi. Wisik pun datang yang mewartakan adanya kerajaan dan agama baru. Rampung meditasi Sang Prabu berpesan kepada para abdinya mengenai saatnya ia turun dari kejayaan. Sang Prabu juga berbagi wilayah kepada para abdinya, siapa yang menguasai Gunung Lawu dan semua mahluk gaib hingga batas yang ia tentukan. Yakni ke barat hingga Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan, dan ke utara sampai pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu.

Gunung Lawu akan terus menjadi tempat kemusyrikan jika kita terus mempercayai hal yang berbau mistis tersebut, ingatlah wahai para pendaki gunung Lawu segala makhluk baik berupa Jin atau Manusia tidak akan bisa memberi maslahat atau madharat kecuali tuhan yang menciptakan kita semua yaitu Allah SWT.

Jika dalam perjalanan kita menuju puncak kita tersesat atau sukses bahkan meninggal atau hilang, itu bukan karena di sebabkan oleh makhluk – makhluk penyesat aqidah tersebut. Tapi semuanya kita kembalikan kepada zat yang Maha Tahu dan Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu.

“ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin , maka jin-jin itu mena

mbah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (QS.Al Jin : 6)



0 komentar: