Minggu, Februari 22, 2009






Puncak Lawu
Jam setengah sebelas malam berdua kami berangkat ke terminal Bungorasih, di antar dengan mengendarai motor oleh para sahabatku. Setelah mengisi perut dengan sedikit makanan kami langsung mencari bus menuju arah Magetan, kurang lebih jam dua belas malam bus mulai bergerak meninggalkan terminal Bungorasih dan mengantarkan kami berdua menuju terminal Maospati Magetan, malam itu kami sedang mengadakan perjalanan ke Gunung Lawu dan ini adalah perjalanan kami yang pertamanya untuk mencapai kawasan pendakian tersebut. Kami berdua sebenarnya belum paham sama sekali rute perjalanan yang harus kami tempuh serta biaya yang harus kami keluarkan, hanya berbekal informasi yang saya dapatkan dari om saya yang baik hati yaitu om Google maka saya mendapatkan informasi yang kami butuhkan meskipun tidak sedetail yang saya harapkan tapi lumayan sangat membantu, Thanks for every body who uploaded about Lawu mountain . Saat bus sudah memasuki daerah kabupaten Magetan, saya baru teringat bahwa ponco yang telah saya siapkan ternyata lupa memasukkannya dalam bagpackerku padahal saat ini musim hujan dan gak mungkin saya kembali sekedar untuk mengambil ponco dan gak mungkin saya membeli ponco lagi karena uang pas-pasan, andaikan punya uang cukuppun tak ada toko yang buka karena hari masih buta, akhinya biarlah, tawakal. Memasuki terminal Maospati sekitar pukul tiga pagi, suasana masih sangat sepi, kami turun dari bis di sambut beberapa orang yang menawari kendaraan, setelah bertanya kemana tujuan kami, wow mereka menawarkan ongkos untuk ke Plaosan sebesar Rp 50.000 taka sugiru ne, okane motte inai yo…, kami bertanya kesana kemari akhirnya di beri saran sama seseorang untuk menunggu sampai subuh, karena angkutan di mulai setelah subuh. Terpaksa kami rebahan di bangku terminal, eh enggak lama kemudian kami di tawari sama orang yang sama dengan ongkos Rp 5000 per orang dengan tujuan Magetan yang nantinya di sana kita bisa naik lagi ke Plaosan jelasnya, kami menyetujui dan kami akhirnya berangkat dengan beberapa penumpang lain yang kemalaman disitu.
Adzan Subuh berkumandang saat kami tiba di Pasar Magetan, udara cukup dingin, tampak aktivitas di pasar tersebut mulai ramai, kami mencari masjid untuk menunaikan kewajiban sholat, setelah itu kami menuju jalan raya, sebentar saja kami di tanyai oleh beberapa sopir untuk menuju kemana akhirnya terjadi transaksi dan sepakat dengan harga Rp 5000 ongkos ke Plaosan per orang. Udara semakin dingin dan tampak barisan rumah – rumah penduduk yang masih sunyi, jalanan terus menanjak sesekali sopir berhenti untuk menunggu penumpang yang rata – rata penumpang di pagi buta itu adalah para ibu – ibu pedagang, sepanjang perjalan sang sopir mengajak ngobrol dan menjelaskan secara detail rute menuju cemoro sewu thanks bro. Sepanjang jalan ke Plaosan sudah tampak gugusan gunung lawu yang tampak hanya menghitam karena hari masih sedikit gelap, akhirnya kami tiba di sebuah pasar, sang sopir menghentikan mobilnya dan menyuruh kami untuk menaiki mobil L300 yang akan mengantar kami menuju Cemoro sewu ataupun Cemoro Kandang, mobil ini sebenarnya tujuan utamanya adalah Tawangmangu Cuma melewati kedua lokasi pintu pendakian terebut.
Pak Bagong begitulah sang sopir mengenalkan dirinya, dengan sangat percaya diri dia bercerita tetntang siapa dia, dia adalah seorang sopir kawakan daerah tersebut dan dia menawarkan jika kelak membawa mobil sendiri maka kita bisa menitipkan mobil di rumahnya begitu juga jika kita butuh untuk mengantarkannya maka di akan siap sedia, begitulah kira- kira yang dia ceritakan.
Jalan menuju Tawangmangu yang notabene jalan menuju pintu pendakian sangat menanjak, hingga seringkali beberapa penumpang harus turun dan membantu mendorong karena saking menanjaknya jalan dan berkelok – kelok bagaikan seekor ular raksasa yang melilit.
Pagi itu pemandangan begitu indah suasana begitu asri di sebelah timur terlihat sang bagaskara mulai merekah dan tampak menyinari puncak Lawu yang tampak tegar menantang, di kiri kanan tampak kebun – kebun sayur yang subur dan ada juga telaga yang tampak tenang dan jernih, semakin lama jalan semakin menanjak dan memasuki hutan yang lumayan lebat, penumpang yang ikut bersama mobil pak Bagong ini banyak yang turun di kawasan hutan tersebut konon kata pak Bagong mereka para pencari kayu bakar yang mencari kayu untuk di jual di pasar – pasar sebagai pemenuhan kehidupan sehari – hari.
Duduk disebelah kiri saya seorang tua dengan rambut dan jambang yang acak - acakan dan sudah memutih, dia sempat berbasa – basi dengan menanayakan mau naik ke gunung Lawu, ternyata dia juga mau naik ke puncak juga padahal dia sudah sangat tua sekali, saya bertanya tujuan dia kesana, ternyata dia mau bersemedi, wah benar berarti kata orang – orang bahwa Gunung Lawu itu tempatnya bermacam – macam kesyirikan.
Tak lama kemudian tibalah kami di Cemorosewu pak Bagong menghentikan mobilnya, dengan gaya sok akrab kami diajak ngobrol dulu dan memberi beberapa tips pendakian antara lain jangan macam – macam dalam melakukan pendakian ( macam – macam seperti apa pak Bagong ? ) , kami membayar dengan ongkos yang telah di tentukan sebesar Rp 15.000 berdua, dan saran terakhir pak bagong ini adalah tentang ongkos pulang dai cemorosewu ke Plaosan sebesar Rp 12.000 berdua, lho kenapa pak Bagong menarik ongkos kami Rp 15.000 ? gak sadar kali ya pak Bagong itu???? Tapi biarlah its good information. Good bye pak Bagong, have anice time and see ya!!.
Cemoro sewu sebuah pintu pendakian ke puncak Gunung Lawu yang masih terletak di wilayah Jawa Timur, berada di dalam wilayah kabupaten Magetan.
Sebelum kami memulai pendakian kami mempersiapkan diri dengan baju – baju hangat kami termasuk sebo atau penutup kepala dan muka, tapi ternyata sarung tangan saya juga gak kebawa dasar pelupa dan maklum memang kami sangat mendadak karena rencana berangkat sebenarnya esok harinya. Pos penjagaan yang biasa para pendaki melapor sebelum memulai pendakian tampak masih tutup jadi kami berdua langsung aja berangkat naik tanpa melapor terlebih dahulu.
Tepat pukul 06.30 pagi.Udara begitu dingin dan embun masih tampak bergelayutan di dedaunan, sunyi dan segar perjalanan pagi itu, pohon – pohon cemara menyambut langkah kami, dan seekor kijang tampak sedang menikmati rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi, hingga dia meloncat – loncat menjauh karena melihat kedatangan kami, sebentar kemudian sinar mentari pagi mulai menerobos dedaunan memberi sedikit kehangatan, jalan terus menanjak dan sesekali burung jalak batu terbang di depan kami lalu berjalan layaknya ingin menunjukkan jalan, subhanallah, sangat lucu tingkah polahnya dan kelak sampai puncak berkali – kali burung – burung ini bertingkah sama. Langit tampak cerah dan di kejauhan tampak gunung – gunung lain berdiri tegak nan hijau, yang terkadang di selimuti kabut tipis. Di sisi kanan kiri jalan terlihat banyak sayur-sayuran seperti wortel dan brokoly yang nampaknya di tanam oleh penduduk sekitar gunung.
Pagi semakin naik seiring jalan yang semakin naik pula, jalan yang bertekstur bebatuan yang tertata rapi dan cenderung seperti tangga justru membuat saya merasa cepat lelah, seskali kami berhenti untuk membasahi tenggorokan kami dengan air. Hingga akhirnya kami berdua betul – betul merasa kelelahan dan ngantuk karena semalam dalam perjalanan kami tidak dapat tidur sama sekali akhirnya kami putuskan untuk tidur sejenak di tengah jalan dengan di sirami sinar matahari, saking capeknya akhirnya mata ini benar – benar terpejam. Deru angin yang tiba – tiba dan hawa dingin yang menampar tubuhku bangunkanku, kulihat di puncak sana kabut sangat pekat dan bergerak sangat cepat hingga menimbulkan bunyi yang menderu – deru, saya sempat khawatir jangan – jangan akan terjadi badai padahal perjalanan belum ada setengahnya, dengan cepat ku bangunkan teman dan ku ajak melanjutkan perjalanan, kurasakan angin dan kabut bertambah kencang dan pekat tapi dalam hatiku sudah bertekad bahwa pendakian ini haruslah kelar karena kami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, lagian, adapun badai atau apapun tidak akan membahayakan kami atau membunuh kami jika itu tidak di kehendaki oleh Allah Ta’ala. Dengan terus di iringi gemuruh suara angin yang menabrak bebatuan dan rerantingan pohon kami terus menapaki jalan setapak demi setapak, sesekali jika di tempat terbuka tanpa penghalang batu atau pohon ku rasakan angin seolah – olah ingin menghempaskan badan, hingga akhirnya kami sudah mendekati dataran yang sudah kami anggap puncak sebelumnya, kami mendapati sebuah goa yang modelnya seperti sumur, setelah ku amati di dalam dasar goa tersebut saya melihat banyak sekali bekas – bekas sesajen, subhanallah ternyata goa ini adalah tempat kemusyrikan tempat di mana orang – orang itu mencoba berhubungan dengan para setan atau jin yang tidak bisa memberikan maslahat ataupun madharat, sungguh suatu perbuatan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Tidak lama kemudian kami terus beranjak dari tempat tersebut akhirnya kami tiba di suatu tepat yang agak datar di sana ada bekas gubuk yang sudah di bongkar kami melihat sekeliling begitu gelap dengan kabut jarak pandang kira – kira hanya 10 meter, kami tidak bisa melihat tempat yang lebih tinggi dari tempat ini maka saya berasumsi bahwa ini adalah puncak lawu, tapi saya berpikir waktu saya bertanya sama om google puncak lawu terdapat sebuah monumen, jadi mungkin masih ada lagi puncak tertinggi. Waktu menunjukan jam 11.23 susana sangat gelap tertutup kabut yang sangat tebal dan berhembus sangat kencang, kami menunggu masuknya waktu sholat Dzuhur sambil istirahat di balik gundukan – gundukan tanah yang di tumbuhi pepohonan perdu, tak terasa kami tertidur dalam buaian angin yang menderu – deru tiada henti, ketika terbangun kulihat kabut terlihat kurang dan aku melihat di depan sana sebuah puncak lagi, dan kulihat sepintas seperti ada sebuah bangunan monumen, rupanya itu puncak tertinggi dari gunung ini. Cepat saya bangunkan teman dan tak suruh melihat sehingga sebentar kabut dan angin datang lagi untuk menutupinya hingga kami selesai sholat dan pergi untuk menuju kesana dan puncak itu tak pernah mau nongol lagi dari selimut kabutnya.
Setelah mengisi perut dengan roti kami siap melanjutkan menuju puncak tertinggi tapi tampaknya cuaca betul – betul tidak mendukung dan akhirnya kami memutuskan untuk turun lagi melalui jalur comoro kandang yang masuk dalam wilayah Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan menuju ke jalur cemoro kandang saya banyak melihat bangunan – bangunan yang sepertinya di pakai orang untuk bertempat tinggal, tapi semenjak kami berangkat dari awal di cemorosewu kami tidak menjumpai satu manusiapun, jadi bangunan – bangunan tersebut kosong tanpa penghuni jadi seandainya benar - benar terjadi badai atau hujan deras kami bisa berteduh disana dan di sana terdapat sumber air yang saya melihat sudah sangat berbau kesyrikan, di sediakan pula toilet – toilet duduk, inipun sepertinya di sediakan bukan untuk pendaki yang hanya ingin mencari tantangan atau menikmati ciptaan Allah Yang Maha Tinggi, tapi untuk orang – orang pemuja setan tersebut. Dan masih banyak pula sepanjang perjalanan di puncak bangunan – bangunan yang di pakai untuk semedi atau untuk yang lainnya, sungguh tempat kemusyrikan yang nyata, beginilah kejahiliyahan manusia yang hidup dan di atur tanpa menggunakan undang – undang Allah. Akhirnya kami berjumpa pula dengan sesosok manusia yang sebelumnya kami menyangka bahwa kami di puncak gunung sendirian.
Seorang ibu yang sudah tua dengan di temani dua ekor ayam yang sibu makan di sebelahnya menyapa kami,” mampir dulu mas “ sapanya, ternyata ibu tersebut berjualan dan tinggal disitu, kami sempat membeli beberapa makanan ringan untuk sekedar camilan dan tampak juga makanan lain seperti mie instan dan beberapa minuman botol produk Yahudi ( semoga saya kuat untuk tidak makan atau minum produk – produk negara teroris tersebut ). Setelah berbasa - basi sebentar kami mulai melanjutkan perjalanan Alhamdulillah ibu tua tersebut memberi informasi rute melalui cemorokandang, karena seperti yang saya ketahui di puncak sebelum kita menemukann jalur satu – satunya turun ke cemoro kandang banyak sekali cabang jalan sehingga bisa saja kita akan tersesat atau bahkan berputar – putar, tapi kadanmg juga ada tanda – tanda tertentu yang telah di pasang oleh para pendaki.
Jalur cemoro kandang sangat panjang sekali, tidak ada jalan yang tertata tapi Cuma jalan setapak yang melingkar – lingkar dan terkadang pula berupa jalan bekas air hujan, dan angin pada jalur ini sangat kencang di saat musim – musim hujan karena posisi rute ini terletak di sebelah barat gunung dan angin pada bulan – bulan ini bertiup dari arah barat, tapi pemandangan pada rute ini sangat indah sekali kita bisa melihat Tawangmangu, perbukitan dan lembah nan hijau menghiasi setiap arah kita memandang. Hutan – hutan lebat dan masih sangat asri, air terjun dan kera – kera hitam saling berloncatan dari dahan satu kedahan lain, suara kicauan burung bersahut – sahutan. Kira – kira kurang satu kilo meter ke pos pertama hujan turun dengan lebat, saya yang lupa tidak membawa ponco akhirnya harus lari tapi sayangnya akhirnya masih basah juga. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih empat jam kami tiba di pos pertama kira – kira pukul setengah enam sore, kami istirahat di posko sambil mengganti baju yang basah dengan pakaian cadangan, setelah itu kami beranjak menunggu angkutan di sebuah warung – warung di pinggir jalan yang memang kebanyakan melayani para pendaki atau pengunjung lainnya. Setelah makan dan minum susu jahe kami siap untuk melanjutkan perjalan pulang dengan menunggu mobil angkutan, ternyata mobil angkutan sudah tidak ada, sempat terjadi transaksi dengan seseorang yang bawa mobil, tapi harga tidak sepakat karena uang kami pas – pasan, akhirnya kami memutuskan untuk berlindung dari dingin di sebuah mushola, menjelang sholat isya kami di tawari oleh suami orang yang berjualan di warung di mana kami makan tadi, akhirnya kami deal dan di antar ke Plaosan sebenarnya sekalian mau di antar ke Magetan tapi ongkosnya pula yang tidak mencukupi, sampai di Plaosan kami menunggu angkutan, tapi sayangnya jam segitu angkutan ternyata sudah tidak ada lagi maka kami putuskan untuk tidur di sebuah Masjid sampai subuh tiba, setelah itu baru kami bisa mendapat kendaraan bus mini jurusan Serangan Madiun dengan ongkos sepuluh ribu rupiah per orang kami tiba di terminal Madiun.
Hari masih pagi terminal Madiun masih sangat sepi hanya beberapa tukang ojek dan tukang becak yang sangat aktif menyongsong kedatangan kami untuk menawarkan jasanya, kami mampir ke warung dulu untuk minum the hangat dan makan nasi pecel Madiun, setelah itu baru kami menuju angkutan umum yang parkir rapi menunggu penumpangnya, kami memang berencana untuk naik kerata api. Dengan ongkos Rp 2500 per orang kami tiba di stasiun Madiun. Rupanya kereta api jurusan Surabaya yang kelas ekonomi masih jam 11 siang dan waktu saat itu masih menunjukkan jam tujuh pagi, terpaksa kami istirahat tidur di sebuah mushola stasiun hingga akhirnya kereta api tiba, jam sebelas siang lebih sedikit kereta berangkat menuju Surabaya dan tiba di Surabaya sekitar pukul tiga sore.
Alhamdulillah akhirya kelar sudah perjalanan kami ke puncak gunung Lawu, Cuma sayang kami tidak membawa kamera untuk mendokumentasikan keindahan – keindahan Gunung Lawu
Foto di atas minta sama teman yang pernah mendaki kesana juga

Gunung Welirang

Gunung Arjuno

trip to Gunung Lawu

Gunung Penanggungan





0 komentar: